Learning Through Playing (Belajar Melalui Bermain)

by Emmy Soekresno on Saturday, 17 October 2009 at 06:01

LANDASAN HUKUM AL HADITS
“Ajak main (anakmu) 7 tahun, didik dia 7 tahun, dan temani dia 7 tahun”
“Temani anakmu selalu”
“Dakwahilah manusia atau sampaikanlah pada pendengar sesuai dengan akal dan kemampuan mereka”

MAKNA BERMAIN MENURUT PARA AHLI
1. Charlotte Buhler: “Bermain adalah pemicu kreatifitas. Anak yang akan meningkat kreatifitasnya.
2. Jean Piaget: “Bagi anak bermain adalah sarana mengubah kekuatan potensial dalam diri menjadi pelbagai kemampuan dan kecakapan. Bermain adalah sarana utama untuk belajar hukum alam, hubungan antara orang dan obyek”
3. Menurut beberapa ahli pendidikan yang lain:
• Bermain bagi anak adalah bekerja
• Bermain memperluas cara pandang anak sehingga pada hakekatnya bermain adalah wahana belajar bagi anak.
• Belajar melalui bermain (learning through playing) adalah sebuah konsep bagaimana bermain membantu anak mengembangkan kontrol tubuhnya, menyempurnakan kemampuan fisik dan koordinasi otot, serta memperbaiki fungsi panca indera.
• Kegiatan bermain dapat menjadi petunjuk dalam memahami anak. Antara lain bagaimana gaya belajar anak, kecepatan belajar, temperamen, pilihan mainannya, kecerdasannya, kekurangannya, dsb.

CIRI-CIRI KEGIATAN BERMAIN
• Dilakukan dengan sukarela
• Bisa dinikmati karena menyenangkan, mengasyikkan, menggairahkan
• Dikerjakan tanpa iming-iming
• Aktifitas lebih penting
• Partisipasi aktif secara fisik dan mental
• Bebas mengoperasikan imajinasi, tidak harus kenyataan
• Spontan, sesuai dengan keinginan
• Makna dan kesenangan bermain ditentukan oleh pelaku

PERSIAPAN BERMAIN
Dalam kegiatan bermainnya, anak memerlukan suasana yang nyaman dan menyenangkan serta sesuai dengan karakteristik anak. Karenanya, diperlukan persiapan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan “belajar melalui bermain” tersebut.

 TEMPAT BELAJAR
• Rak penyimpanan setinggi anak
• Karpet
• Hiasan
• Meja
• Kursi
• Warna-warna
• Lokasi di dalam atau luar rumah

MEMILIH MAINAN SESUAI USIA

1. Bayi kecil (sejak lahir – 6 bulan)
Dalam 6 bulan pertama kehidupan waktu konsentrasi dan kontrol motorik sangat Terbatas. Bayi akan merespon hal-hal yang menarik, yaitu: gambar-gambar, suara, tekstur, dan secara bertahap akan mengembangkan kemampuan untuk memukul, menendang, dan memegang benda-benda.

2. Bayi besar (7 – 12 bulan)
pada usia 7 bulan bayi diharapkan sudah dapat duduk tanpa disangga. Di usia ini bayi telah mengembangkan kemampuan memegang benda-benda dengan baik dan dapat memegang dengan satu tangan.

3. Masa kanak-kanak awal (12 – 23 bulan / young toddler)
Satu tahun usia bayi akan ditandai dengan adanya perkembangan motorik yang sangat pesat. Beberapa anak sudah mulai berjalan, kadang-kadang ada yang masih perlu bantuan untuk berjalan. Ada juga yang sudah mampu untuk naik turun tangga. Anak-anak di usia ini mulai menunjukkan kemampuan imajinasi. Pada sekitar usia 18 bulan perkembangan kemampuan bahasa mulai muncul. Dan anak mulai menunjukkan kemampuan berfikir simbolis, juga permainan pura-pura (pretend play).

4. Masa kanak-kanak akhir (24 bulan – 3 tahun / older toddler)
Perkembangan motorik kasar anak-anak di usia 2 tahun sangat baik sehingga memungkinkan mereka bereksplorasi dengan banyak benda-benda dan kegiatan, serta berpartisipasi dalam berbagai aktifitas motorik kasar. Lagipula kemandirian awal yang mereka miliki mendorong mereka untuk menampilkan dan mencoba kekuatan mereka. Periode 2-3 tahun adalah periode ketika anak memulai permainan fantasi dan bermain peran tapi mereka masih sangat suka bergerak dan bereksplorasi.

5. Masa prasekolah (3 – 5 tahun)
Pada masa ini ada perubahan yang jelas dalam perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosialisasi serta emosi. Walaupun perkembangan tidak secepat/sedramatis periode sebelumnya.

6. Masa sekolah dasar (6 – 8/9 tahun)
Perubahan besar terjadi pada usia sekitar 6 atau 7 tahun, saat anak mulai memiliki “tanggung jawab dan dapat mengarahkan diri secara sadar”. Masa ini disebut pula sebagai akhir dari masa kanak-kanak awal. Perubahan perkembangan yang terjadi adalah pada perkembangan kognitif (yaitu tingkat pemikiran logis dan simbolis ) serta sosialisasi dan emosi. Pada beberapa buku perkembangan anak, usia 9 tahun menandakan waktu matangnya ketrampilan fisik anak. Anak-anak di atas usia 9 tahun biasanya lebih mampu untuk membaca dan mengikuti instruksi dan secara sadar mengembangkan “rencana-rencananya” dan “strategi-strateginya” sendiri.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s