KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK DAN BAGAIMANA CARA MENGHINDARINYA

by Emmy Soekresno, S.Pd on Monday, 03 January 2011 at 05:52

Anak merupakan amanat yang harus dipikul oleh orang tua. Orang tua bertanggung jawab atas terlaksananya amanat ini. Bila orang tua salah dalam mendidik anak, kesalahan itu akan menyebabkan kerusakan yang nyata, kelalaian yang serius, pengkhianatan kepada amanat itu, dan merupakan pertanda awal hancurnya sebuah generasi.

Rumah merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama sebagai cikal bakal  terbentuknya masyarakat yang terdidik. Seorang anak sebelum dididik di sekolah atau di lingkungan masyarakat luas, terlebih dahulu dididik di dalam rumah bersama keluarga.

Tentunya, dalam proses pendidikan ini anak selalu merekam segala gerak-gerik orang tua, baik dalam aspek intelektual, sosial maupun moralnya.

Sebagaimana orang tua memnpunyai hak atas anak-anak, begitupun anak-anak mempunyai hak atas orang tua. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar selalu berbakti kepada orang tua, Allah juga memerintahkan kita agar selalu berbuat baik kepada anak-anak.

Berikut ada beberapa ayat al Qur’an dan Hadits tentang kewajiban berbuat  baik kepada yang menjadi amanat

“Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya….” (QS An Nisaa: 27)

 “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 27) 

“Kamu semua adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

(HR. Bukhari, Fath al Bary no. 583 daan Muslim no. 1829)     

Kendati tanggung jawab dalam mendidik anak itu besar dan berat, namun sebagian besar manusia mengabaikan masalah tanggung jawab ini, menganggap remeh bahkan menelantarkan anak-anak mereka serta membiarkan persoalan pendidikan mereka.  Anak-anak kemudiantumbuh tanpa pengarahan yang benar, mengecewakan dan membangkang. Saat itu orang tua baru mengeluh, menggerutu dan menyalahkan orang lain (misalnya;  guru, pengasuh). Mereka tidak sadar, bahwa sesungguhnya merekalah penyebab utama dari ‘rusak’ nya anak-anak mereka sendiri.

Menghindari lebih mudah daripada mengobati. Sehingga kita dapat menghindari  kesalahan mendidik. Berikut ada 6 kelompok kesalahan secara umum, yang sering dilakukan orang tua tanpa menyadari bahwa itu suatu kesalahan

1.      Harapan negatif

Tekanan yang paling kuat dalam diri manusia adalah harapan. Harapan kita komunikasikan lewat kata-kata dan bahasa tubuh. Anak-anak menginternalisasikan harapan itu sehingga menjadi bagian dari dirinya.

2.      Standar Terlalu Tinggi atau Terlalu Rendah

Tanpa pemahaman yang jelas tentang tahap-tahap perkembangan anak, maka orang tua seringkali menetapkan target yang terlalu berat untuk anak sehingga orang tua sering marah dan anak menjadi kecewa serta sedih.

3.      Menumbuhkan Kompetisi Antar Saudara Kandung atau Antar Teman

Orang tua atau pendidik kadang tidak menyadari kalau ungkapannya sering menimbulkan kompetisi antar saudara atau teman. Misalnya memuji anak yang berhasil, sementara kita mengabaikan atau mengeritik yang gagal

4.      Ambisi

Orang tua berambisi yang terbaik, sehingga anaknya ‘dipaksa’ untuk menjadi yang terbaik pula.

5.      Standar Ganda

Kadang-kadang peraturan/hukuman dilaksanakan secara ‘pilih bulu’ atau pilih kasih.

6.      Terlalu Sibuk / Terlalu Lama di Luar Rumah

“Bukanlah anak yatim itu anak yang kedua orang tuanya usai dari kesusahan hidup dan wafat, tetapi anak yatim ialah yang menjumpai kehidupan ibunya tetapi jauh darinya, atau menjumpai kehidupan ayahnya tapi ia sibuk.”

Dalam menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, orang tua perlu melakukan 5 hal sebagai berikut:

1.      Terimalah dan cintailah anak apa adanya (bukan ada apanya)

Karena masing-masing anak berasal dari gen yang berbeda sehingga memiliki keunikan masing-masing.

2.      Timbulkan Dialog, Hindari Debat 

Anak menggunakan debat untuk membela diri. Jangan terpancing. Katakan padanya, “Kita tidak bicara dulu kalau kamu sedang kesal.”

3.      Bersikap Positif

  • Disiplin positif, dan membuat aturan
  • Mendengar aktif
  • Komunikasi produktif
  • Membuat jadwal ramah otak

4.      Beri Kepercayaan

Perhatikan kemampuan dan kelebihan anak. Hargai usaha anak dan kemajuan anak. Serta berikan dorongan bukan pujian.

5.      Punyai 7 Kebiasaan Efektif

  • Proaktif
  • Memulai dengan tujuan akhir (
  • Kerjakan yang terpenting dan mendesak (banyak yang penting, pilih yang paling mendesak)
  • Berfikir menang dan menang
  • Sinergi
  • Mengasah gergaji
  • Berhenti jadi orang awam (yang tidak tahu menahu tentang perkembangan anak)

Wallahu a’lam bish showab

 


 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s